
Kasus penghilangan nyawa ini terjadi pada tahun 1974 di Universitas Stanford, California. Kala itu, teknologi forensik seperti tes DNA belum tersedia, sehingga polisi hanya mengandalkan sidik jari dan tes poligraf (tes kejujuran). Selama puluhan tahun, kasus ini menemui jalan buntu dan bahkan sempat dikaitkan dengan sekte satanisme dan pembunuh berantai seperti Ted Bundy dan Son of Sam. Baru 40 tahun kemudian, dengan teknologi DNA yang maju, titik terang akhirnya ditemukan.
Korban kasus ini adalah Arlis Perry, seorang wanita berusia 19 tahun yang baru saja menikah dengan Bruce Perry, seorang mahasiswa pre-med di Stanford. Arlis adalah seorang Kristen yang taat, ramah, berprestasi, dan merupakan cheerleader semasa SMA. Bruce dan Arlis menikah pada Agustus 1974, lalu pindah ke kompleks apartemen khusus mahasiswa Stanford di California. Karena Bruce sibuk kuliah, Arlis sering kesepian dan merasa terisolasi. Ia bekerja sebagai resepsionis di sebuah firma hukum untuk menghilangkan rasa bosan.
Malam Kejadian (12 Oktober 1974)
Pada malam itu, Arlis dan Bruce menghadiri sebuah festival di kampus. Mereka sempat beradu argumen di tengah jalan saat hendak mengirim surat. Arlis yang ingin menenangkan diri memutuskan pergi ke Gereja Memorial Stanford dan meminta Bruce kembali ke apartemen.
Hingga pukul 1 malam, Arlis belum kembali. Bruce yang khawatir menyusul ke gereja, tetapi semua pintu sudah terkunci. Ia mencari Arlis di sekitar kampus, lalu menelepon polisi pukul 3 pagi, khawatir istrinya tertidur dan terkunci di dalam gereja. Dua petugas polisi datang ke gereja, mencoba memanggil dari luar, tetapi tidak ada sahutan. Polisi sempat berasumsi Arlis hanya kabur karena pertengkaran suami-istri.
Pukul 5.40 pagi, pihak kepolisian mendapat laporan dari Steven Crawford, seorang penjaga keamanan (satpam) kampus Stanford yang bertugas di gereja. Steven melaporkan telah menemukan seorang gadis sudah tidak bernyawa di dalam gereja.
Ditemukan di Altar Gereja
Polisi tiba di TKP dan menemukan jasad Arlis Perry di sisi kiri altar, di bangku depan. Situasinya sangat tragis:
Tubuh Arlis ditemukan tanpa busana dari pinggang ke bawah.
Tangannya disilangkan di depan dada, dan kakinya terlentang.
Terdapat luka tusuk menggunakan pemecah es di belakang telinga kirinya, dengan mata pemecah es masih tertancap. Gagang pemecah es tidak ditemukan.
Arlis dilecehkan secara seksual menggunakan lilin sepanjang kurang lebih satu meter, yang ditemukan masih ada di dalam tubuhnya.
Ada lilin lain yang diletakkan di atas dadanya.
Arlis juga dipukuli dan dicekik.
Di TKP ditemukan air mani di atas bantal berlutut dan sidik jari di salah satu lilin.
Penyelidikan Awal dan Kecurigaan
Polisi segera meminta kesaksian Steven Crawford. Steven mengaku datang ke gereja pukul 12.10 tengah malam untuk mengunci, dan gereja sudah kosong. Ia mengunci gereja sekitar pukul 12.15-12.30. Ia melakukan pengecekan rutin kedua pukul 2 pagi, dan gereja masih kosong. Pada pengecekan ketiga pukul 5.40 pagi, ia melihat salah satu pintu gereja terbuka paksa dari dalam, dan ia menemukan jasad Arlis.
Bruce Perry juga menjadi tersangka utama, terutama saat polisi melihat Bruce mengalami mimisan hebat karena stres, namun Bruce mengklaim ia memang sering mimisan jika stres. Bruce dan Steven, keduanya menjalani tes poligraf dan tes sidik jari.
Bruce Perry dinyatakan lolos tes poligraf, dan sidik jarinya tidak cocok dengan yang ada di lilin.
Steven Crawford juga dinyatakan lolos tes poligraf, dan sidik jarinya tidak cocok dengan yang ada di lilin.
Kesaksian dua jemaah lain membenarkan bahwa Arlis memang masuk ke gereja untuk berdoa dan masih terlihat khusyuk saat mereka meninggalkan gereja.
Bruce sempat memberikan petunjuk bahwa ia melihat seorang pria berambut pirang berusia sekitar 25 tahun di sekitar gereja. Pria ini tidak pernah berhasil diidentifikasi.
Kaitannya dengan Sekte Setan dan Pembunuh Berantai
Kasus ini sempat menjadi liar karena Pastor gereja, Pendeta Hemilton Kelly, menduga kejadian ini adalah bagian dari ritual pemujaan setan, karena posisi tangan dan lilin yang ditinggalkan pelaku.
Pencurian Nisan: Setelah pemakaman Arlis di kampung halamannya di Bismarck, batu nisan Arlis dicuri. Hal ini memicu rumor bahwa pelaku adalah seseorang dari Bismarck yang mengikuti Arlis ke California dan mencuri nisannya sebagai 'piala'.
David Berkowitz (Son of Sam): Pembunuh berantai ini mengklaim dalam suratnya kepada polisi bahwa sekte setan yang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Arlis setelah Arlis mencoba mengubah mereka menjadi Kristen. David kemudian menarik kembali pernyataannya, dianggap hanya mencari sensasi.
Ted Bundy: Pembunuh berantai terkenal ini juga sempat diwawancarai karena ia berada di California antara tahun 1973-1974. Namun, Ted Bundy memiliki alibi yang kuat, dan dikesampingkan sebagai tersangka.
Terobosan Kasus Setelah 40 Tahun
Selama bertahun-tahun, polisi terus menguji ulang barang bukti. Pada tahun 2016, mereka mendapat terobosan besar: ditemukannya profil DNA seorang pria tak dikenal pada celana jeans Arlis yang dikenakan pada malam kejadian.
Polisi mulai mewawancarai kembali semua orang yang berada di sekitar gereja dan mengambil sampel DNA mereka. Setelah mengeliminasi banyak orang, hanya satu orang yang tersisa untuk dicocokkan DNA-nya:
Steven Crawford, mantan satpam yang pertama kali menemukan jasad Arlis.
Polisi kemudian menyelidiki latar belakang Steven: ia adalah seorang Veteran Angkatan Udara yang menjadi petugas polisi di Stanford, tetapi kemudian dipaksa keluar dan hanya ditawari posisi sebagai satpam. Steven tidak terima dan membenci Stanford. Pada tahun 1982, Steven pernah ditangkap karena mencuri ratusan barang berharga dari Stanford, termasuk buku langka, yang menunjukkan sifat kriminalnya.
Pengungkapan Pelaku
Pada tahun 2018, polisi membandingkan DNA Steven Crawford dengan DNA yang ditemukan di celana jeans Arlis.
Hasilnya: COCOK!
Steven Crawford yang selama 44 tahun berpura-pura menjadi saksi dan penyelamat adalah pelakunya.
Pada Kamis, 28 Juni 2018, polisi mendatangi kediaman Steven. Steven yang saat itu berusia 72 tahun dan kondisi kesehatannya menurun, menolak membuka pintu. Polisi pun mendobrak masuk menggunakan kunci master dan menemukan Steven sudah duduk di tempat tidur sambil memegang pistol.
Steven Crawford menolak ditangkap dan kemudian menembak dirinya sendiri, tewas di tempat.
Keluarga Arlis Perry, setelah menunggu keadilan selama 44 tahun, tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat pelaku diadili dan mendengar motif sebenarnya. Steven Crawford membawa motifnya ke liang kubur. Kasus ini akhirnya ditutup, terungkap bahwa satpam yang melaporkan penemuan jasad adalah pelaku pembunuhan itu sendiri
0 Komentar