Jepang

Kisah ini dikirim oleh Wawa kita yang bernama Cahya dari Kalimantan. Pengalaman horor ini terjadi pada tahun 2016 ketika Cahya mengikuti program magang di Jepang. Cahya tidak sendirian; ia bersama temannya, Sari. Mereka berdua mengambil jurusan di bidang pertanian, sehingga mereka magang dan bekerja di ladang pertanian di Distrik Kawakami Mura di Nagano. Program magang berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Selama magang, Cahya dan Sari tinggal di rumah keluarga Takana. Mereka memanggil pemilik rumah dengan sebutan Otousan (Ayah) dan Okaasan (Ibu). Rumah keluarga Takana ini lumayan ramai, dihuni oleh keluarga inti, beberapa karyawan, dan dua mahasiswa magang dari Indonesia. Cahya dan Sari ditempatkan di bangunan terpisah dari rumah utama, tetapi masih dalam satu kawasan. Kamar mereka disekat dari dapur menggunakan pintu geser. Kamar mandi berada di dalam rumah utama, sehingga mereka harus keluar dari kamar, melewati dapur, dan keluar rumah untuk sampai ke sana. Fasilitas di dapur mereka sangat lengkap, termasuk bumbu dan bahan makanan, membuat Cahya dan Sari merasa senang dan betah. Malam Kedua (Gangguan Suara Masak) Memasuki malam kedua, kejanggalan mulai terjadi. Saat Cahya masih tertidur, Sari membangunkannya dan menyuruhnya diam. Sari bertanya apakah Cahya mendengar suara orang sedang memasak. Saat Cahya menajamkan pendengarannya, ia mendengar suara langkah kaki beriringan dengan suara alat masak di dapur. Jam menunjukkan pukul 2.45 pagi. Mereka heran, mengapa ada yang memasak di dapur mereka, padahal dapur di rumah utama juga tersedia, apalagi kondisi dapur mereka gelap. Sekitar jam 4 pagi, Sari membangunkan Cahya lagi karena kebelet pipis. Sari tidak berani ke kamar mandi sendirian. Ketika mereka menyalakan lampu dapur, mereka terkejut. Dapur terlihat bersih dan rapi, tidak ada satu pun barang yang berpindah tempat. Cahya dan Sari mencoba berpikir positif, mungkin orang Jepang memang sangat rapi, tapi mereka tetap merasa aneh mengapa ada orang memasak dalam kegelapan. Gangguan Kedua (Lemparan Kerikil) Beberapa waktu kemudian, mereka kembali diganggu. Mereka sering mendengar suara kerikil dilempar dari luar ke dinding kamar mereka. Suara itu muncul berkali-kali. Cahya mencoba menenangkan Sari, menganggap itu hanya iseng dari karyawan Otousan. Namun, suara orang masak dan lemparan kerikil ini terus muncul di malam-malam selanjutnya. Mereka berdua akhirnya sepakat untuk mengabaikannya, selama gangguan itu hanya berupa suara dan tidak sampai menampakkan diri. Gangguan Ketiga (Peristiwa Saling Menatap) Suatu malam, saat Cahya tertidur antara sadar dan tidak, ia merasa ada seseorang yang duduk di samping kepalanya sambil mengelus-elus rambutnya. Karena mengantuk, ia mengabaikannya. Pukul 4 pagi, alarm berbunyi. Cahya terkejut melihat Sari sudah duduk sambil menatap tajam ke arahnya dengan kening berkerut, seolah keheranan. Cahya menyapa, tetapi Sari hanya diam. Setelah Cahya menyapa kedua kalinya, Sari tersadar dan bertanya. Namun, Sari kemudian tiba-tiba berlari keluar kamar melewati dapur, menuju kamar mandi sendirian. Ini aneh, karena Sari biasanya selalu minta ditemani. Dari sudut pandang Sari, kejadiannya berbeda. Pagi itu, Sari bangun lebih awal. Ia melihat Cahya masih pulas, tapi kemudian mata Cahya terbuka, dan Cahya langsung loncat terduduk sambil melamun. Yang paling aneh, rambut Cahya terlihat mengembang dan kasar. Sari yakin ia sedang melihat sosok aneh, bukan Cahya yang biasa. Sari ketakutan, dan saat Cahya (sosok aneh itu) menoleh ke arahnya, Sari langsung lari ke kamar mandi sendirian. Setelah Sari kembali, Cahya sudah terlihat normal. Mengungkap Misteri Obasan Merasa penasaran, saat sore hari di ladang, Cahya iseng bertanya kepada para karyawan Otousan apakah rumah itu angker. Karyawan bernama Ayato langsung menoleh dengan serius. Saat Cahya menceritakan tentang rambutnya yang dielus-elus saat tidur, Ayato terdiam. Dua karyawan dari Tiongkok, Chong dan Song, yang tidak fasih bahasa Jepang, ikut menyimak setelah Ayato menceritakan ulang dalam bahasa Mandarin. Setelah mendengar cerita Cahya, Chong dan Song serentak berseru: "Obasan!" Cahya dan Sari bingung, karena mereka tidak pernah bertemu nenek-nenek di rumah itu. Ayato yang merasa hal ini serius langsung berkata, ia perlu menyampaikan hal ini ke Otousan. Okaasan kemudian datang memberikan sebuah piring kecil berisi garam yang sudah dimantrai untuk diletakkan di dekat kepala Cahya saat tidur, sebagai penangkal hal jahat. Cahya merasa tidak enak karena sudah merepotkan, tetapi ia tetap mengikuti instruksi Okaasan. Petunjuk Baju Hitam Keesokan harinya, semua kegiatan magang diliburkan karena ada acara keluarga Takana. Cahya dan Sari melihat banyak orang berdatangan ke rumah, semuanya memakai baju serba hitam. Mereka bertanya-tanya, acara apa yang menggunakan dress code serba hitam. Keesokan harinya, Cahya bertanya kepada karyawan Otousan tentang acara baju hitam tersebut. Karyawan itu ragu-ragu menjawab, dan Ayato memberikan isyarat agar ia boleh memberitahu. Karyawan itu akhirnya menjelaskan bahwa acara kemarin adalah peringatan 40 hari meninggalnya seseorang. Orang yang meninggal adalah Ibunya Pak Takana, yang mereka panggil Obasan. [Pengungkapan] Mendengar jawaban itu, Cahya dan Sari langsung lemas. Mereka teringat seruan Chong dan Song: "Obasan!". Karyawan Otousan menjelaskan bahwa Obasan meninggal beberapa hari sebelum Cahya dan Sari datang. Semasa hidup, Obasan tinggal dan meninggal di kamar yang kini ditempati oleh Cahya dan Sari. Semua peralatan masak, bumbu, dan bahan makanan di dapur itu juga milik Obasan. Menurut kepercayaan mereka, arwah orang yang belum lewat 40 hari masih berada di sekitar rumah dan masih melakukan aktivitas seperti biasa semasa hidup. Inilah alasan di balik semua gangguan: suara memasak di dapur, lemparan kerikil, dan elusan di kepala Cahya saat tidur, semuanya adalah aktivitas arwah Obasan. Untungnya, setelah 40 hari berlalu (setelah acara peringatan), gangguan-gangguan yang meneror Cahya dan Sari tidak pernah ada lagi hingga program magang mereka selesai. Keluarga Takana sempat berkata, "Mungkin kemarin Obasan hanya ingin mengucapkan salam kepada kalian karena kalian menempati kamarnya."

Posting Komentar

0 Komentar