
Kisah ini dikirim sama Wawa kita yang bernama Dinda. Dinda ini sudah stay di Prancis sejak tahun 2019. Ketika memasuki tahun 2020, Dinda mengambil program kelas bahasa dan diikuti oleh banyak peserta dari berbagai negara. Empat di antaranya adalah Ben, Alex, Grace, dan Rora. Mereka berlima sepakat tinggal di sebuah colocation (kos-kosan) di sekitar kawasan Arc de Triomphe di Paris.
Selama tinggal di sana, Dinda dan teman-temannya awalnya merasa betah. Namun, memasuki pertengahan tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 merebak dan kawasan itu menjadi sepi karena zona merah, suasana colocation tiba-tiba berubah menyeramkan.
Gangguan Pertama (Mimpi Grace):
Pada suatu malam, Dinda dan Alex sedang belajar di ruang tengah. Tiba-tiba, Grace keluar dari kamar dengan wajah pucat dan panik. Grace bercerita bahwa ia baru saja mimpi buruk. Ia bermimpi bercermin di cermin ruang tengah, tetapi yang ia lihat bukan bayangannya, melainkan bayangan perempuan seumuran mereka berbaju putih yang menatap tanpa ekspresi. Kemudian, ekspresi wanita itu berubah seram, dan dia menjerit.
Gangguan Kedua (Sosok Mirip Ben):
Tiga hari kemudian, Dinda yang ketiduran di ruang TV terbangun sekitar jam 10 malam. Samar-samar Dinda melihat Ben (teman serumah yang seharusnya sedang pulang ke rumah orang tuanya) menyuruhnya pindah dan kemudian masuk ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Alex datang dan berniat masuk kamar mandi. Alex mengetuk pintu dan marah karena tidak ada jawaban. Dinda menyuruh Alex sabar karena "Ben" ada di dalam. Alex terkejut, "Hah? Kan Ben lagi ke rumah orang tuanya dari dua hari yang lalu?" Dinda bersikeras bahwa ia melihat Ben masuk. Alex dan Dinda berdebat, lalu mereka memanggil Rora. Rora menelepon Ben, yang mengonfirmasi bahwa ia memang masih di rumah orang tuanya. Dinda langsung freeze. Mereka membuka kamar mandi dengan kunci cadangan, dan kamar itu kosong, tetapi terkunci dari dalam.
Grace Melihat Langsung:
Malam itu juga, Dinda dikagetkan oleh Grace yang lari dan minta ditemani tidur karena ketakutan. Grace mengaku ia baru saja melihat sosok perempuan berbaju putih yang sama (yang pernah ia lihat di mimpi) sedang berdiri di depan cermin ruang tengah.
Puncak Teror (Kesurupan Grace):
Malam berikutnya, sekitar jam 3 dini hari, Dinda terbangun karena pintu kamarnya digedor Rora. Grace berteriak-teriak heboh dari kamarnya. Begitu pintu dibuka, Dinda langsung tahu bahwa Grace kesurupan.
Saat Dinda mulai membaca Surah Al-Fatihah, Grace tiba-tiba berhenti. Wajahnya melotot tajam ke arah Dinda. Grace mulai berbicara dengan bahasa Prancis yang sangat cepat dan fasih, padahal ia bukan warga negara Prancis. Grace kemudian berdiri, melompat-lompat di kasur, sambil bertepuk tangan dan tertawa cekikikan.
Mencari Bantuan:
Dinda dan Rora mengunci Grace di kamar dan berdebat karena Rora yang skeptis tidak percaya pada kesurupan. Dinda menyuruh Rora mencari polisi. Polisi datang, tetapi mereka juga tidak percaya kesurupan, menganggap Grace sedang "mabuk."
Bantuan Romo:
Dinda teringat ada gereja di dekat situ. Ia lari sekencang-kencangnya di tengah musim dingin untuk mencari bantuan. Seorang Romo bersedia ikut ke colocation mereka.
Romo meminta semua orang menunggu di luar dan masuk ke kamar Grace sendirian. Setelah sekitar 30 menit, suasana tenang. Romo keluar dan mengatakan Grace pingsan, tetapi sudah aman.
Penjelasan Romo:
Romo menjelaskan bahwa Grace diganggu oleh sosok perempuan yang sudah sejak lama menghuni colocation itu. Sosok ini adalah wanita yang sama yang sudah dua kali mendatangi Grace (lewat mimpi dan penampakan). Romo mengatakan bahwa untungnya Grace bisa diselamatkan.
Akhir Cerita:
Dinda akhirnya memutuskan untuk keluar dari colocation tersebut. Menurut kabar dari teman Indonesia lainnya, sosok perempuan itu pernah beberapa kali menampakkan diri lagi, seolah tidak pernah pergi dari tempat itu.
0 Komentar